Rabu, 16 Juli 2014

To Be My Reminder, My Alarm: Sebuah Resensi Buku “Saatnya untuk Menikah” karya Mohammad Fauzil Adhim

“Tidak ada yang bisa dilihat (lebih indah) oleh orang-orang yang saling mencintai seperti halnya pernikahan,”
Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam 


Memang indah membayangkan pernikahan. Sepasang manusia yang memang fitrahnya mencintai lawan jenisnya disatukan dalam perjanjian yang mengikat kokoh (mistaqan ghalizha, setara kokohnya dengan perjanjian antara Bani Israil dengan Allah di Bukit Sinai dan perjanjian antara seluruh umat manusia dengan Allah di alam ruh). Saking indahnya mungkin bisa diibaratkan layaknya puncak gunung; indah betul apabila dirasakan langsung dengan menapaki rute pendakian hingga mencapai puncaknya gunung, bukan dengan hanya dapat cerita dari para pendaki gunung.

Mungkin itu yang membuat sebagian diantara kita semangatnya meluap-luap untuk menikah, tetapi lupa mempersipkannya. Lebih ekstrem lagi, banyak pula yang sudah tidak tahan ingin lebih jauh berhubungan tapi tidak pernah terpikir untuk menyempurnakan. Padahal Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam telah dengan cukup gamblang mengingatkan, “Hai para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mencapai ba’ah (bisa ditafsirkan menjadi “persetubuhan” atau “beban pernikahan” menurut Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah), menikahlah, karena sesungguhnya menikah itu lebih mampu menahan pandangan mata dan lebih dapat menjaga kemaluan”. Berikut persiapan yang menurut saya butuh dipersiapkan betul agar pernikahan dapat seindah atau bahkan jauh lebih indah daripada yang dibayangkan:

A. Bekal Ilmu

Banyak ilmu yang mesti dipersiapkan, karena seharusnya ilmu mendahului amal dan maksud baik saja tidak cukup, bahkan tanpa ilmu maksud baik bisa berbuah keburukan! Umumnya kita kurang membekali diri dengan ilmu-ilmu yang diperlukan dalam berumah tangga, padahal banyak kewajiban-kewajiban dalam pernikahan yang menuntut kita untuk memiliki ilmunya. Kewajiban mengajarkan ilmu-ilmu agama dan menasihati istri menuntut seorang suami untuk memiliki penguasaan atas ilmu-ilmu agama serta ilmu dalam menyampaikannya. Kewajiban mendampingi dan melayani suami menuntut seorang istri untuk memiliki ilmu tentang apa yang harus, perlu, boleh dan tidak boleh ditaati serta ilmu dalam melaksanakannya.

B. Kemampuan Memenuhi Tanggung Jawab

Banyak tanggung jawab yang harus dipenuhi oleh seseorang yang sudah menikah sehingga membuat sebagian orang menjadi takut untuk menjalaninya. Seorang suami berkewajiban menyandangkan pakaian, memberi makan dan menyediakan tempat tinggal kepada istrinya. Seorang istri berkewajiban pula menerima penunaian tanggung jawab suami dengan hati terbuka dan tidak menuntut suami untuk memberikan sesuatu yang tidak sanggup dipenuhinya.

C. Kesiapan Psikis

Kita sering membayangkan indahnya pernikahan, namun jarang berpikir bahwa orang yang kelak menikah dengan kita memiliki banyak kekurangan. Kita membayangkan pernikahan ideal, lengkap dengan profil suami-istri ideal, namun lupa bahwa dibalik segala idealisme tersebut masih ada sisi lemah nan manusiawi seorang suami maupun istri. Kita mempelajari kemanjaan Aisyah radhiallahu 'anha tanpa menerima fakta bahwa Aisyah adalah seorang pencemburu berat. Kita merindukan kemesraan sepeti Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam dengan Aisyah radhiallahu 'anha yang saling minum air dari gelas yang sama namun lupa bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam beberapa kali mengganjal perutnya dengan batu karena beberapa hari kekurangan makanan! Siap secara psikis berarti siap menerima kekurangan-kekurangan seorang suami dan/atau istri, siap memasuki kehidupan rumah tangga secara bersahaja, siap mendorongnya untuk memperbaiki sebagian kekurangan-kekurangannya sembari memaklumi sebagian yang lainnya.

D. Kesiapan Ruhiyah

Sebenarnya, jika ingin bicara ekstremnya, hanya dengan berbekal kesiapan ruhiyah cukup sudah bagi seseorang untuk menikah. Jika seseorang betul-betul baik agamanya, dia akan mudah membekali diri dengan ilmu, mempersiapkan kemampuan memenuhi tanggung jawab serta memiliki kesiapan psikis. Jika telah siap secara ruhiyah, seseorang dapat dengan mudah menerima kebenaran karena hati yang sudah terkondisikan betul oleh kesadaran menaati perintah Allah dan Rasul-Nya. Justru sering kita lihat toh seseorang ragu dalam mengambil keputusan padahal ilmunya luas dan dalam? Dia mengerti betul, tetapi tidak yakin mampu melaksanakannya sementara terhadap pertolongan Allah pun dia ragu.

Allah Maha Mengetahui dengan segala ilmu-Nya

=================================================

Punten buat kawan-kawan yang membaca tulisan ini, aslina tidak ada niat lain kecuali untuk saling mengingatkan dalam kebaikan. Betul sudah, saya menulis dilatarbelakangi oleh rumor-rumor yang dialamatkan kepada saya belakangan ini, jika kawan-kawan tahu, namun sebenarnya menjadi paradoks apabila mengaitkan tulisan ini dengan kejadian sebenarnya. Mahabesar Allah Yang Mahamenutupi segala kekurangan dan aib kita. Terlepas dari semua itu, tulisan ini menjadi kebutuhan saya untuk perbaikan diri kedepannya. Semoga tulisan ini menjadi tadzkirah atau pengingat, reminder and alarm supaya masing-masing dari kita menjadi pribadi yang lebih baik kedepannya, hingga Allah menggenapinya dengan takdir yang baik pula. Dan kepada Allah kita semua kembali.

well, she's already made decision and I got nothing to lose

Kamu pengunjung ke