Selasa, 17 Desember 2013

Peran Kebijakan Pemerintah dalam Upaya Pembinaan dan Pengawasan Tambang Rakyat sebagai Upaya Konservasi Sumberdaya Timah Pulau Bangka-Belitung*

Pendahuluan

Usaha pertambangan dilakukan untuk memanfaatkan semaksimal mungkin bahan galian yang terdapat di bawah permukaan tanah agar dapat digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat yang hidup di atasnya. Sumberdaya bahan galian mesti terinventarisasi dengan baik serta penambangannya direncanakan dengan matang agar kegiatan pertambangan dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan; bahan galian dapat termanfaatkan sebanyak-banyaknya dengan meminimalisasi kehilangan (losses) akibat faktor teknis dan nonteknis. Salah satu faktor teknis yang memungkinkan pemanfaatan bahan galian tidak termanfaatkan secara optimal adalah tailing, yaitu hasil pengolahan bahan galian yang bukan merupakan pembawa mineral utama sehingga tidak dilakukan pengolahan lebih lanjut. Pemanfaatan bahan galian yang tidak optimal dapat ditinjau dari kondisi tailing yang masih mengandung bahan galian dalam kandungan yang cukup ekonomis.

Usaha pertambangan timah di Pulau Bangka-Belitung mendapati puncak performanya pada periode bom industri timah tahun 1950-1970. Pada saat itu, usaha pertambangan secara dominan diperankan oleh PT Timah dan PT Kobatin, yang kewalahan memenuhi permitaan buyers di pasar internasional. Maka PT Timah mengambil kebijakan untuk lebih banyak menampung hasil penambangan timah oleh masyarakat yang dikenal sebagai Tambang Rakyat. Tingginya permintaan terhadap komoditas timah membuat penambangan tidak hanya dilakukan pada batuan pembawanya, bahkan Tambang Rakyat melakukan penambangan pada tailing hasil penambangan timah terdahulu. Hal ini dilakukan karena kandungan mineral utama pembawa timah, yaitu kasiterit masih terkandung pada tailing dalam jumlah yang cukup ekonomis. Bahkan selain kasiterit sebagai mineral utama, terdapat mineral-mineral bawaan yang merupakan rare-earth element seperti zirkon, pasir kuarsa, ilminit, hematit, xenotim dan monazite.

Melihat fakta di lapangan mengenai kegiatan pemanfaatan tailing oleh para pelaku Tambang Rakyat, maka mesti menjadi perhatian para pengambil kebijakan bahwa untuk memanfaatkan bahan galian semaksimal mungkin untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, upaya konservasi bahan galian timah bisa memanfaatkan kondisi aktual usaha pertambangan timah pulau Bangka-Belitung; pembinaan dan pengawasan terhadap kegiatan Tambang Rakyat dengan memegang teguh prinsip kesehatan dan keselamatan kerja serta pemantauan dan pengelolaan dampak lingkungan.


Peran Tambang Rakyat dalam Upaya Konservasi Sumberdaya Bahan Galian

Usaha pertambangan dikenal memiliki beberapa karakteristik, yaitu hi-cost, hi-tech dan hi-risk sehingga diperlukan modal teknologi, keuangan dan sumberdaya manusia yang berkualitas agar dapat menjalankannya. Wajar apabila kita berasumsi bahwa hanya perusahaan besar saja yang mampu menjalankan usaha pertambangan. Namun, tidak menutup kemungkinan masyarakat yang tidak memiliki modal-modal tersebut sebesar perusahaan-perusahaan yang telah mapan untuk turut serta berpartisipasi dalam usaha pertambangan. Menurut UU No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, Pemerintah dapat mengeluarkan Izin Pertambangan Rakyat bagi penduduk setempat sekitar wilayah keterdapatan bahan galian.

Berdasarkan informasi dari Dinas Pertambangan Provinsi Bangka Belitung, pada tahun 2001 telah dikeluarkan timah dari Pulau Belitung sebanyak 6000 ton dari hasil kegiatan Tambang Rakyat. Sedangkan berdasarkan data dari Pricewater House Cooper, menunjukkan produksi timah Indonesia pada Tahun 2000 sebesar 51,6 ribu ton; suatu angka yang menjadi wajar apabila kita berasumsi bahwa Tambang Rakyat berkontribusi signifikan terhadap peringkatan produksi timah Indonesia. Namun, dampak negatif terhadap lingkungan seperti lubang-lubang bekas penambangan yang tidak direklamasi lalu tergenangi air, pendangkalan sungai-sungai akibat eksploitasi air berlebihan, kematian vegetasi akibat polusi air dan udara, kerusakan fasilitas umum hingga biota laut serta dampak negatif terhadap kehidupan sosial seperti terancamnya kesehatan dan keselamatan kerja para penambang yang abai prosedur hingga potensi konflik sosial adalah beberapa dari banyak permasalahan yang menjadi penting dan genting untuk segera ditemukan solusinya.


Peran Kebijakan Pemerintah dalam Upaya Pembenahan Tambang Rakyat

Tertinggalnya mineral dalam kandungan tailing yang cukup ekonomis memperkecil manfaat yang sebenarnya dapat dihasilkan dari sumberdaya timah. Melihat potensi Tambang Rakyat dalam usaha pemanfaatan tailing, penulis melihat hal ini sebagai peluang bagi upaya konservasi sumberdaya timah pulau Bangka-Belitung. Konservasi di sini bermakna pemanfaatan secara optimal sumberdaya bahan galian, dalam hal ini mineral utama dan mineral bawaan yang secara ekonomis masih terkandung dalam tailing hasil penambangan timah. Dalam hal ini, kebijakan pemerintah mesti secara aktif membina dan mengawasi kegiatan Tambang Rakyat untuk dapat beroperasi menjunjung tinggi prinsip kesehatan dan keselamatan kerja serta pemantauan dan pengelolaan dampak lingkungan.

Ketika berbicara mengenai Tambang Rakyat, orang-orang senantiasa berpikir bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan yang tidak mengindahkan kaidah-kaidah Good Mining Practices, Sustainable Development, Health, Safety, and Environment dan lain-lain. Fakta di lapangan memang menunjukkan hal-hal tersebut; kegiatan penambangan tidak terencana dengan baik, abai kesehatan dan keselamatan kerja serta acuh terhadap dampak lingkungan, bahkan menjadi penyebab utama permasalahan sosial. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh rendahnya tingkat kemampuan teknologi, keuangan dan yang paling berperan, sumberdaya manusia. Dalam hal ini kebijakan pemerintah dapat berperan untuk menjadi solusi bagi permasalahan yang ada.


Kesimpulan

Pemanfaatan bahan galian mesti dimaksimalkan agar manfaat yang semestinya dapat dihasilkan dapat diwujudkan secara nyata untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Usaha pertambangan yang memerlukan modal teknologi, keuangan dan sumberdaya manusia tidak menutup kemungkinan bagi masyarakat yang tidak memiliki modal-modal tersebut sebesar perusahaan-perusahaan yang telah mapan untuk turut serta berpartisipasi. Salah satu bentuk partisipasi tersebut adalah Tambang Rakyat yang ternyata berperan signifikan terhadap peningkatan produkti timah Indonesia dengan memanfaatkan taliling timah yang masih mengandung mineral utama dan mineral-mineral bawaan dalam jumlah yang ekonomis.

Keberadaan talining hasil penambangan timah yang masih mengandung mineral-mineral utama dan ikutan seperti mineral kasiterit, zirkon, pasir kuarsa, ilminit, hematit, xenotim dan monazit dalam kandungan yang cukup ekonomis menjadi indikator bahwa usaha pertambangan timah di pulau Bangka-Belitung belum dilaksanakan sesuai prinsip-prinsip konservasi bahan galian. Selama ini, usaha pemanfaatan tailing dilakukan oleh Tambang Rakyat yang ternyata memiliki kontribusi cukup signifikan untuk produksi timah Indonesia. Namun, fakta lapangan menunjukkan bahwa terdapat banyak dampak negatif terhadap lingkungan dan kehidupan sosial yang dihasilkan dari usaha Tambang Rakyat yang abai prinsip kesehatan dan keselamatan kerja serta pemantauan dan pengelolaan dampak lingkungan.

Kebijakan pemerintah sebagai bukti nyata kekuasaan tertinggi di tangan rakyat mesti menjadi alat utama pemberdayaan masyarakat, khususnya untuk menjadi solusi nyata bagi permasalahan kegiatan Tambang Rakyat. Pembinaan dan pengawasan Tambang Rakyat agar dampak buruk secara kesehatan dan keselamatan kerja, dampak lingkungan bahkan sosial dapat diminimalisasi, bahkan dihilangkan sama sekali. Jika hal ini dapat dilakukan, upaya konservasi dapat berjalan secara optimal sehingga pemanfaatkan bahan galian timah dapat dilakukan secara maksimal untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.


Daftar Pustaka

1  Widhiyatna, D., Pohan, M.P., Putra, C., 2006. Inventarisasi Bahan Galian Pada Wilayah Bekas Tambang di Daerah Belitung, Babel, Pusat Sumber Daya Geologi, Bandung

2   Suprapto, Sabtanto Joko. 2007. Tinjauan Reklamasi Lahan Bekas Tambang dan Aspek Konservasi Bahan Galian. Kelompok Program Penelitian Konservasi – Pusat Sumber Daya Geologi

Raden Fahmi Maulana Kamil Ardisasmita
Mahasiswa Program Studi Sarjana Teknik Pertambangan ITB 

*Tulisan ini dimuat dalam rangka pendaftaran #SMBootcamp IV PT Newmont Nusa Tenggara

Kamu pengunjung ke