Rabu, 27 Juni 2012

Queen's My Inspiration of Life (I)

Sambil nunggu seorang kawan yang katanya mau silaturahim ke rumah, aku nonton lagi DVD "Queen : Days of Our Lives". Nonton yang ketiga kalinya tentu bikin nonton serasa gaksuprised, udah cukup tau alur ceritanya, hehe. Tapi kali ini aku jadi mencermati tontonan ini, gak cuma menikmatinya sejenak lalu lupa kenangan dan pelajaran apa yang bisa didapat dari perjalanan hidup 40 tahun grup musik rock Queen. Maka sebelum lupa (lagi), sembari menunggu mata terkantuk, kutulis apa yang kudapat biar kita bisa belajar dari sesuatu yang mungkin kebanyakan orang gak memperhatikannya.


Brian, Freddy, John, Roger

Queen, sejak awalnya dimotori Freddy Mercury (vokalis), Brian May (gitaris), Roger Taylor (drummer) dan John Deacon (bassis) adalah sesuatu yang tidak asing orang-orang mengenalnya sebagai legenda musik rock dunia. "We Will Rock You" dan "We Are The Champions" jadi lagu olahraga paling mendunia. 300 juta kopi album membuatnya jadi salah satu band paling laris sepanjang masa. But it was no bed of roses, no pleasure cruise. Sepanjang karirnya, Queen banyak mengalami turbulensi, bahkan resistensi dari luar dirinya. Namun sikap mental apa yang mampu membuatnya bertahan, bahkan dijadikannya segala masalah itu sebagai batu loncatan?


1. Kreativitas ditengah Krisis


Sejak dibentuk pada tahun 1971 hingga 1974, Queen telah merilis album "Queen", "Queen II" dan "Sheer Heart Attack". Beberapa single hit seperti "Seven Seas of Rhye", "The March of the Black Queen" dan "Killer Queen" mendapat apresiasi luar biasa dari berbagai pihak. Namun secara materi kesuksesan itu tidak berarti signifikan bagi para personil Queen dan orang-orang dibaliknya, bahkan pada titik ini mereka terlilit hutang. Freddy Mercury sampai pada keadaan di mana beliau berkata "I am not going to deliver any more music, I can't." Roger Taylor yang beberapa kali mematahkan stik drum karena menabuhnya terlalu keras ketika merekam "Death On Two Legs" ditegur oleh manajemen Queen karena mereka tidak memiliki cukup uang untuk menggantinya.



Queen mengambil langkah untuk bekerjasama dengan John Reid yang juga sukses memanajeri Elton John. Krisis keterbatasan biaya membuat mereka agak terkekang dalam mengekspresikan seni, bahkan "Bohemian Rhapsody" 'terpaksa' dibuat dengan menyatukan tiga lagu yang berbeda! Namun secara kreatif mereka berhasil menyajikan album "A Night At The Opera" dan berkat keterampilan John Reid dalam mengatur bisnis musik, segera setelahnya Queen terbebas dari hutang dan mulai sejahtera secara finansial. Terbukti, krisis memaksa mereka agar kreatif dalam mengatur keadaan sehingga sukses yang diraih sangat memuaskan, bahkan diluar ekspektasi banyak orang, termasuk personil Queen sendiri.


2. Tidak Menyerah pada Asumsi

Masih tentang "Bohemian Rhapsody". Kompleksitas di dalamnya menunjukkan kreativitas seorang Freddy Mercury dalam mengkomposisi beberapa rekaman suara dan melodi instrumen musik dari beberapa studio terpisah yang jika kita mendengarnya satu per satu maka akan terdengar sangat aneh, namun beliau mengaturnya sehingga menjadikannya salah satu lagu terbaik sepanjang masa hingga saat ini.

Namun sebelum diperdengarkan di media massa, para teknisi musik dan manajemen Queen memohon agar mereka tidak memproduksi lagu tersebut karena terdengar asing dan durasinya terlalu panjang sehingga tidak mungkin laku di pasaran. Bahkan Elton John berasumsi lagu ini tidak akan sukses. Tapi Freddy Mercury bersikukuh untuk memproduksi "Bohemian Rhapsody" sebagaimana imajinasinya dan segala asumsi tentang kegagalan lagu tersebut berhasil dipatahkannya.



3. Berani Beda dan Fokus



"Ballet to the Masses"
Pada akhir 1970an dunia, khususnya wilayah Britania Raya tengah dilanda demam aliran musik punk dengan para punggawanya seperti Sex Pistols dll. Namun Queen tetap pada jalurnya sebagai grup musik rock (atau lebih tepatnya glamour-rock), bahkan Freddy Mercury justru melawan mainstream tersebut dan beliau menggagas konsep "Ballet to the Masses" dengan kostum andalannya, celana dan sepatu balet di hampir setiap konsernya pada masa itu.


Ketika seluruh dunia punk mencemoohnya, bahkan pers pun mendiskreditkan penampilannya, beliau fokus pada apa yang beliau kerjakan, tetap menjadi sesuatu yang berbeda hingga album "News Of The World" meraih sukses dengan dua lagu olahraga paling mendunianya, "We Will Rock You" dan "We Are The Champions" masih ramai dinyanyikan khalayak hingga sekarang.




(mungkin) bersambung..



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kamu pengunjung ke