Sabtu, 24 Maret 2012

Ilmu Pengetahuan sebagai Penentu Pasang Surut Peradaban Manusia

Oleh : Fahmi Maulana Kamil*




Pendahuluan

Sejarah peradaban manusia di berbagai belahan dunia selalu mengalami masa kejayaan dan kebobrokan. Begitulah Allah menggilirkan masa-masa itu agar manusia yang berakal dapat mengambil pelajaran daripadanya sehingga peradaban yang ada sekarang tidak mengulangi kesalahan di masa lalu, bahkan jika mungkin melampaui kegemilangan peradaban yang pernah dunia saksikan sebelumnya. Ketika kita menyadari fakta-fakta peradaban di masa lampau, hendaklah kita bertanya, "Apa rahasia sukses peradaban yang mengalami kebangkitan dan apa yang menjadi sebab-sebab yang kemudian menyebabkan runtuhnya peradaban tersebut?"


Jatuh Bangung Peradaban Manusia bangsa Eropa / Barat / Kristen


Kita tentu mengenal Romawi, suatu peradaban unggul di masanya. Kota-kota besar, istana-istana megah, pilar-pilar raksasa mendominasi infrastruktur di seluruh wilayahnya. Jalan Via Appia yang membentang ratusan kilometer dari Roma hingga Brundisium, Italia Selatan, beserta jalan-jalan lainnya menghubungkan antarpenjuru Eropa Selatan, mengembangkan ekonomi dan perdagangan. Sekolah dan perpustakaan tersebar merata dengan koleksi buku-buku pemikir dunia. 


Namun, segala kebesaran itu membutakan para penguasa Romawi. Hidangan bagi para kaisar disajikan dengan peralatan yang terbuat dari emas dan perak, tidak akan habis dimakan kurang dari dua hari sembari dihibur dengan penyanyi-penari setengah telanjang. Rakyat lebih senang menonton percikan darah yang membuncah dari badan para Gladiator yang bertarung di Colosseum daripada belajar filsafat dan sains. Praetorian dan Centurion, tentara Romawi, diisi oleh orang-orang yang lemah, mabuk-mabukkan dan tidak disiplin yang suka menindas bangsanya sendiri. 


Akhirnya Romulus Augustus, kaisar terakhir Romawi Barat, dijatuhkan oleh Odoacer, pemimpin suku barbar dari Jerman pada 476 Masehi. Vandalisme menguasai wilayah peradaban terbesar masa itu, merusak gedung-gedungnya, membakar buku-bukunya dan menghempaskan Eropa dalam kegelapan selama seribu tahun lamanya. Rakyat melarat hidup satu atap bersama ayam, babi, dan sebagainya di kampung-kampung yang becek dan berlumpur, seperti Paris dan London. Masyarakat yang buta huruf hidup terbelenggu dalam mitos, takut pergi ke tempat gelap dan jauh dari desa karena ada goblins (semacam tuyul) yang jahat dan arwah-arwah gentayangan yang tidak diterima masuk surga. 


Orang sakit dianggap "kerasukan setan" atau dihukum Tuhan, dirawat oleh dukun-dukun dan 'diobati' dengan trik-trik sulap. Bisul di kaki yang semakin parah karena tidak tertangani oleh mantra-mantra gaib dipotong oleh kapak karena "sudah dikuasai setan". Buku-buku terbuat dari kulit domba yang dinamakan parkamen (parchment) sehingga mahal dan hanya terdapat ratusan di seluruh Eropa. Tidak ada hukum kecuali yang melindungi kekuasaan raja dan gereja. Seseorang yang cara hidupnya berbeda dengan sekitarnya atau "kurang pergaulan" dianggap tukang sihir sehingga diburu pihak gereja yang memilki pedoman resmi mengenai cara-cara memburu para penyihir, Malleus Maleficarum (The Hammer Againts Witches, 1487).


Namun, beberapa penguasa Eropa mulai tercerahkan ditengah-tengah kegelapan ini. Charlemagne (Charles yang Agung), penguasa The Holy Roman Empire (Kekaisaran Romawi Suci) yang meliputi wilayah Prancis, Jerman, Belanda, Italia, Swiss, Austria, dan sekitarnya, merupakan salah satu dari sedikit penguasa saat itu yang bisa membaca, namun tidak bisa menulis. Hal ini tidak lepas dari pertemanannya dengan Khalifah dari Baghdad, Harun al-Rasyid yang pernah menghadiahinya seekor gajah bernama Abul-Abbas yang membuat orang-orang Frank terpesona seakan-akan melihat makhluk dari dunia lain. 


Lalu ada Frederick II yang dijuluki "Stupor Mundi", Keajaban Dunia karena kehebatannya sebagai Kaisar Romawi Suci. Dia menyenangi ilmu pengetahuan dan puisi-puisi yang indah dan menguasai sembilan bahasa, termasuk bahasa Arab. Saking cerdasnya, dia sempat dimusuhi gereja bahkan dicap anti-Kristus. Dia memerintahkan penerjemahan buku-buku karya Aristoteles, Averroes (Ibn Rusyd), Avicenna (Ibn Sina), dan lain-lain yang nantinya digunakan di universitas-universitas Eropa selama ratusan tahun. Salah satu ilmuwannya yang terkenal bernama Leonardo da Pisa yang terkenal dengan nama 'Fibonacci' yang memperkenalkan Eropa dengan angka-angka Arab seperti yang digunakan dunia saat ini. 
Ilmuwan lainnya seperti Gerbert d'Aurillac (kelak menjadi Paus dengan nama Sylvester II, pernah belajar matematika, astronomi dan filsafat pada orang-orang Islam di Spanyol), Constantine of Chartage (menguasai ilmu-ilmu pengobatan Islam yang kelak diajarkannya di Universitas Salerno yang menjadi pusat ilmu kedokteran Eropa di zamannya), Gerard of Cremona (penerjemah buku-buku Arab tentang astronomi, kedokteran dan matematika serta menerjemahkan karya sarjana Yunani, Ptolemy, Astronomy dan Almagest yang berbahasa Arab), Adelard of Bath (penerjemah buku-buku Euclid dan Elements dan dianggap ilmuwan Inggris yang paling awal), Albertus Magnus (pencetus ide dasar Skolastisme, yaitu penyatuan pemikiran teologis spiritual dengan pemikiran filosofis rasional), Thomas Aquinas (murid Albertus Magnus, penulis Summa Theologiae tentang penyelarasan ilmu spiritual dengan ilmu rasional), Roger Bacon (orang Eropa pertama yang menemukan bubuk mesiu, dianggap "tukang ramal" karena meramalkan munculnya benda-benda seperti kereta yang tidak ditarik kuda, kapal yang tidak didayung dan mesin yang bisa terbang di masa depan) dan sebagainya mendorong gerakan Renaissance yang kelak menjadikan Eropa bangkit dari keterpurukan, bahkan pemimpin peradaban dunia selama beberapa abad.

Bangsa Viking dari daratan Skandinavia mulai memasuki Eropa pada 1000 M. Kegiatan pelayaran mereka membuka kegiatan perdagangan bangsa Eropa yang perlahan-lahan menemukan irama kebangkitan peradabannya. Para kaum pedagang dari Italia merintis kota-kota baru seperti Venesia, Pisa dan Genoa yang berada di tepi perdagangan laut Eropa Selatan. 


Perang Salib membuka mata masyarakat Eropa tentang peradaban maju di Romawi Timur, terutama Konstantinopel yang besarnya hampir sepuluh kali kota-kota yang ada di Eropa waktu itu. Keluarga de Medici, dengan Cosimo dan Lorenzo sebagai pemimpin utamanya memajukan ilmu pengetahuan dengan bekal kekayaannya yang melimpah. Tukang logam, Johann Gutenberg, menemukan mesin pencetak buku yang membuat Plato, Aristoteles, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd dan lain sebagainya seolah hidup kembali untuk menyebarkan ilmu-ilmu yang mencerahkan. Dari sana muncullah Leonardo da Vinci, Copernicus, Galileo Galilei, Machievelli yang membangkitkan gairah seni dan ilmu pengetahuan masyarakat Eropa. 
Penjelajahan bahari gencar dilakukan. Henry The Navigator menjadikan Portugal pusat ilmu dan teknologi kelautan, perkapalan, navigasi dan lain-lain, menemukan 'Caravel', kapal yang mampu berlayar melawan arah angin, adaptasi layar kapal-kapal Arab 'Lateen' dan mencetak kapten-kapten laut unggul; Bartholomeus Diaz, Alfonso de Alburqueque, Ferdinand Magellan dan Vasco da Gama. Orang-orang Kristen yang baru saja merebut Spanyol dari umat Islam dibawah penguasa Raja Ferdinand dan Ratu Isabella memerintahkan Columbus untuk menemukan jalan pintas ke India lewat Samudra Atlantik yang pada akhirnya beliau mencapai benua Amerika yang dianggap "dunia baru" oleh masyarakat awam Eropa ketika itu. 

Hernando Cortez menaklukan peradaban Aztec demi emas-emasnya yang menggunung, disusul Francisco Pizzaro dengan 200-an prajuritnya yang menaklukan enam juta penduduk Inca. Belanda tidak mau kalah dengan menguasai kepulauan Nusantara, asal muasal rempah-rempah yang terkenal di pasar Eropa. Imperium Inggris bangkit dari perang saudara berlatar belakang agama (Katolik melawan Protestan) dibawah ratunya, Elizabeth I yang bahkan dihalalkan darahnya oleh Paus Gregory XIII. Dibawah restunya, Sir Francis Drake menjelajah dunia, menjadi bajak laut di lautan Karibia (The Pirates of Carribian) terhadap armada perang Spanyol yang menaklukan peradaban Amerika. Inggris mulai mengukuhkan eksistensinya di benua Amerika, Afrika (Guinea dan Senegal), India dan Australia membuat kerajaan ini tidak pernah kehilangan sinar matahari sepanjang zaman. Teknologi mesin uap mendorong Revolusi Industri yang membuat Inggris, Eropa bahkan dunia Barat menguasai peradaban manusia hingga saat ini.


Jatuh Bangung Peradaban Manusia bangsa Arab /  Islam

Sebelum abad 7 Masehi Jazirah Arab ditinggali oleh kaum yang tidak beradab. Padang pasir yang gersang jadi ladang kehidupan masyarakat yang terasingkan dari dua peradaban terbesar di dunia ketika itu, Romawi dan Persia. Suku-sukunya senang berperang dan merampok satu dengan yang lainnya meski perdagangan jadi pekerjaan sebagian masyarakat kelas atas yang hidup bermewah-mewahan dan tidak peduli tetangga-tetangganya yang miskin. 


Wanita tiada harganya, apalagi bayi perempuan yang biasa dikubur hidup-hidup seketika setelah dilahirkan karena dianggap aib. Namun segalanya berubah sejak diutusnya Muhammad al-Amin (Muhammad yang Terpercaya) menjadi Rasulullah yang meletakkan dasar-dasar agama Islam yang dianut sekitar 1,2 miliar orang di seluruh dunia saat ini. Sifatnya yang baik dengan segala kemurnian hatinya berhasil mengajak masyarakat sekitar untuk mengikuti ajarannya, bahkan orang-orang yang dulu membencinya dan ingin membunuhnya seperti Umar bin Kattab, Khalid bin Walid dan Abu Sufyan. 


Rasulullah sangat mementingkan pendidikan dan ilmu dengan sabdanya seperti "Tinta seorang sarjana lebih suci daripada darah syuhada" dan "mencari pengetahuan wajib hukumnya bagi seorang Muslim". Sepeninggal Rasulullah, peradaban Islam dipimpin Khulafa ar-Rasyidin (Para Khalifah yang Bijak), berturut-turut Abu Bakar, Umat bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Khalifah Umar melepas ekspedisi militer dan merebut Suriah, Irak dan Mesir dari Kekaisaran Romawi dan Persia. Pada zaman Khalifah Utsman dan Ali terjadi perpecahan dalam tubuh Umat Islam yang menyebabkan mereka berdua terbunuh. 


Peradaban Islam lalu dikuasai oleh Dinasti Umayyah yang berpusat di Damaskus, Suriah. Di masa itu, penaklukan terhadap wilayah-wilayah lainnya semakin luas hingga Spanyol, Pakistan dan Uzbekistan. Namun, kekuasaan yang korup membuat para penguasanya lupa diri. Pemerintahannya berubah menjadi monarki yang sekuler. Akhirnya pemimpin peradaban Islam berpindah ke Bangdad dengan penguasanya, Dinasti Abbasiyah. Pada zaman ini peradaban Islam menemui masa keemasannya. Perdagangan berkembang, wilayah-wilayah baru dikuasai, warga nonmuslim dikenakan pajak secukupnya sehingga perekonomian negara maju. Protokol kenegaraan dan lembaga kepolisian dibentuk. Khalifah mengangkat wazir, semacam menteri yang mengurusi bidang-bidang tertentu dalam konteks kenegaraan. Orang-orang Arab berhasil menemukan cara membuat kertas sehingga ilmu pengetahuan bisa berkembang sangat cepat. Penerjemahan karya-karya penulis dari Yunani dan India gencar dilakukan.


Pada masa kekuasaan Khalifah Harun al-Rasyid, kota Baghdad mencapai puncak kejayaannya, kota kosmopolitan berpenduduk dua juta orang sedangkan ibukota Kekaisaran Romawi Timur, Konstantinopel, saat itu paling banyak berpenduduk enam ratus ribu orang. Santerlah legenda-legenda "1001 Malam" dengan gedung-gedungnya yang mewah dan pasarnya yang ramai dipenuhi dagangan makanan-makanan lezat, minuman anggur, wangi-wangian serta karpet permadani yang cantik sedangkan kota-kota di Eropa seperti Paris dan London masih berupa kampung-kampung kecil yang kumuh.


Baghdad, dengan perdagangannya yang adil dan ramai serta pertanian dan industri yang maju, menjadi kota paling kaya melebihi seluruh Kekaisaran Romawi di puncak kejayaannya yang mengandalkan jarahan bangsa-bangsa yang ditaklukannya. Taman-taman hijau tersebar, dihiasi kolam air mancur. Jutaan pohon korma sengaja ditanam untuk membuat suasana menjadi teduh. Air bersih tersedia untuk seluruh warga, bahkan tempat-tempat pemandian umum tempat warga beristirahat, membersihkan diri dan bertukar cerita berjamuran di mana-mana. Jalan-jalan ditutupi batu ubin dan di malam hari diterangi lampu hingga beberapa kilometer. Di tempat-tempat yang ramai para penyair membawakan puisi-puisi indah dan menghibur. Istana khalifah megah tiada duanya di seluruh dunia. Pelayannya berjumlah sebelas ribu orang, dinding dihiasi tirai-tirai sutra sebanyak tiga puluh delapan ribu helai banyaknya. Terdapat suatu ruangan bernama Istana Pohon yang diisi "pohon-pohon" terbuat dari emas seberat lima ratus ribu gram. 


Sebelum menjadi khalifah, di usia delapan belas tahun Harun al-Rasyid memimpin ekspedisi militer ke Konstantinopel setelah mengalahkan jenderal Byzantium yang paling berbahaya, Nicetas. Ratu Irene, penguasa Byzantium, meminta pasukan Khalifah agar tidak menyerangnya dan bersedia memenuhi syarat memberikan tujuh puluh ribu keping emas tiap tahun sebagai upeti yang selalu disambut dengan pesta dan parade di jalan-jalan kota Baghdad. Harta itu digunakannya untuk membangun Baghdad hingga dia meningal dunia. Sekolah-sekolah tersebar merata di Baghdad, bahkan di seluruh pelosok kekhalifahan sehingga anak-anak bisa belajar tanpa pungutan biaya, bahkan diberi buku-buku dan berbagai perlengkapan sekolah. 


Perpustakaan-perpustakaan menyimpan jutaan buku-buku terbaik dari seluruh dunia. Ilmu pengetahuan dunia berkembang pesat. Angka 0 yang ditemukan di India dikembangkan oleh matematikawan Islam yang memperkenalkan penggunaannya kepada masyarakat Eropa. Khalifah al-Ma'mun yang terkenal sangat mencintai ilmu dan buku mendirikan Bayt al-Hikmah (Gedung Kebijaksanaan) yang menghimpun kegiatan intelektual dari seluruh negeri bahkan pernah mensyaratkan perdamaian dengan Kaisar Romawi hak para ulama Islam untuk menerjemahkan buku-buku yang ada di perpustakaan sang kaisar. Para ilmuwan Islam seperti al-Kindi, al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Ibnu Rusydi, dan lain sebagainya memiliki kecerdasan yang luar biasa bahkan pada beberapa bidang (Polymath).


Tapi kejayaan peradaban itu membutakan para penguasanya. Khalifah al-Mutawakkil membangun belasan istana dan memiliki harem, tempat bagi ratusan wanita simpanan Khalifah. Bahkan beberapa Khalifah memilki ghilman, budak lelaki dari Turki yang didandani seperti wanita untuk melakukan "hubungan percintaan yang tidak normal". Makanan bagi penguasa disajikan tidak habis dalam waktu kurang dari tiga hari, menggunakan sendok, piring dan garpu dari emas dan dihibur wanita-wanita penari perut berpakaian alakadarnya. 
Pertarungan politik dan militer menggambarkan perpecahan umat Islam yang begitu nyata. Perang saudara karena perebutan kekuasaan terjadi diantara anak-anak Harun al-Rasyid, al-Amin dan al-Ma'mun. Terjadi kudeta berdarah Khalifah al-Mutawakkil oleh tentara Turki. Khalifah Umayyah di Spanyol sejak kepemimpinannya terhadap peradaban Islam digantikan oleh Dinasti Abbasiyah tidak mengakui kedaulatan Khalifah Baghdad sejak tahun 755 M. Dinasti Idrisiyah dan Dinasti Aghlabiyyah dari Afrika Utara melepaskan diri dari pengaruh Bagdad sejak akhir abad 8 M. Dinasti Samaniyah dan Dinasti Buwaih dari Persia dan Dinasti Fathimiyah di Mesir menyatakan kemerdekaannya dari Khalifah Bagdad abad 10 M. 


Sempat diselingi kegemilangan Shalahuddin al-Ayyubi di masa Perang Salib, peradaban Islam kembali terpuruk. Raja Ferdinand dan Ratu Isabella merebut Spanyol, menjalankan inkuisisi (peradilan agama) kepada orang-orang Islam dan Yahudi. Banyak diantaranya diusir keluar Spanyol, bahkan dijatuhi hukuman mati. Satu juta buku umat Muslim dibakar di lapangan Granada menandakan akhir dari peradaban Islam di Spanyol. Puncaknya pada 1258 M Bagdad diserang tentara Mongol dibawah komando Hulagu Khan. Satu juta manusia lebih dibantai dalam sepuluh hari, mewarnai Sungai Tigris dengan merah darah, lalu menghitaminya dengan tinta dari jutaan buku yang dihanyutkan. Sejak saat itu terjadi kemunduran besar-besaran umat Islam hingga saat ini.


Penutup

Peradaban manusia di berbagai belahan dunia mengalami pasang surut. Jika kita perhatikan, umat Islam di wilayah Arab dahulunya adalah kaum yang tidak beradab, namun sejak ajaran Islam datang dengan penghormatannya yang besar terhadap ilmu pengetahuan, bangsa Arab menjadi maju dan berperadaban. Begitu pula dengan bangsa Eropa. Meski dahulunya terkungkung dengan mitos-mitos yang kebodohannya tidak terbayangkan, bangsa ini bisa bangkit karena pencerahan dari ilmu pengetahuan yang mereka pelajari. Kenyataan ini tentu membuat kita berdecak kagum, bahwa sesungguhnya peradaban lahir, berkembang, hingga menemui masa kejayaannya karena ilmu pengetahuan, juga sebaliknya, suatu peradaban bisa terpuruk karena hilangnya tradisi belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan. 


Manusia, khususnya para penguasa perababan yang unggul terlena oleh kemewahan hidup sehingga lupa dengan urgensi ilmu pengetahuan yang bahkan tanpa mereka sadari menjadikan mereka berperadaban. Di abad 17 ketika mental kebodohan masih merajarela, terkenal istilah "Eipsa Scientia Potestas est", Pengetahuan adalah kekuatan. Siapa pun yang memiliki pengetahuan lebih unggul daripada yang tidak. Mungkin di masa lalu hal ini berlaku, tapi belum tentu berlaku di zaman sekarang. Ketika hampir seluruh bangsa di dunia sudah berpengetahuan, maka yang lebih unggul adalah yang berpengetahuan paling tinggi sedangkan bangsa yang berpengetahuan tanpa visi besar tetap akan kalah. Menjadi bangsa yang mengerti untuk apa masyarakatnya berpengetahuan jauh lebih bermanfaat daripada sekadar mengejar pengetahuan tanpa pemaknaan yang jelas dari pengetahuan itu sendiri.


*Penulis adalah mahasiswa Program Studi Sarjana Teknik Pertambangan Opsi Tambang Eksplorasi, Institut Teknologi Bandung. Tulisan ini merupakan resensi dari buku "Imperium III Zaman Kebangkitan Besar" karya Eko Laksono.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kamu pengunjung ke