Kamis, 28 April 2011

Membangun Kewirausahaan Bahari dari Kampus (Catatan Studium Generale Dr. Ir. Fadel Muhammad)

Studium Generale kali ini (sebenarnya ini Studium Generale pertama yang aku ikuti di ITB, hehe) membahas tentang "Membangun Negara Maritim Indonesia" yang dibawakan oleh Dr. Ir. Fadel Muhammad, Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia pada Kabinet Indonesia Bersatu Jilid 2 periode 2009-2014. Sebelum kuliah dimulai, Prof. Akhmaloka, Rektor ITB, memberi kata sambutan. Beliau berbicara tentang ITB yang sedang meretas jalan menuju World Class University berbasis kebudayaan Indonesia. Mahasiswanya yang terdiri dari berbagai suku dan ras memiliki keanekaragaman budaya membuat ITB layaknya miniatur Indonesia, sehingga wajar bahkan seharusnya ITB berkembang secara akademis dan nonakademis, bahkan hingga menembus tingkat internasional tanpa melupakan kearfian lokal yang secara sadar maupun tidak sadar telah menopang eksistensi ITB selama ini. Menurutku, meski akhir-akhir ini semakin sedikit mahasiswa yang berasal dari pulau Kalimantan, pulau Sulawesi, kepulauan Maluku, kepulauan Nusa Tenggara Timur dan Barat, dan pulau Papua dengan mendominasinya mahasiswa yang berasal dari kota-kota besar di pulau Jawa seperti Bandung, Jakarta, Surabaya dan lain-lain, tentu hal ini tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak menjadikan ITB sebagai World Class University berbasis kebudayaan Indonesia, dengan keragaman suku, agama, dan ras didalamnya.


Kuliah pun dimulai. Fadel memulai dengan perkataan bahwa jika kita bicara Indonesia, sebuah negara kepulauan dengan luas lautannya yang jauh lebih besar daripada luas daratannya, tentu tidak bisa dipungkiri bahwa Indonesia memiliki potensi kekayaan bahari yang sangat besar. Bahkan presiden Soekarno pernah menegaskan bahwa kita mesti membuat konsep negara ini layaknya negara bahari, sehingga potensi yang ada bisa dimaksimalkan demi kesejahteraan masyarakatnya.


Dewasa ini, perkembangan ekonomi dunia memiliki kecenderungan pada :

a. berbasis ilmu pengetahuan

Hampir seluruh kegiatan perekonomian yang tetap eksis dan berkembang pada saat ini merupakan produk dari ilmu pengetahuan atau merupakan penggabungan ide dari beberapa cabang-cabang ilmu pengetahuan. Penguasaan dan keterampilan saintifik maupun humaniora merupakan hal yang penting untuk menjaga sustainabilitas produk ditengah pasang surut pasar.

b. persaingan berbasis inovasi

Selain faktor ilmu pengetahuan sebagai basis kegiatan ekonomi, dibutuhkan inovasi yang mengadaptasi produk sehingga bisa diterima di pasar, bahkan menciptakan segmen pasar baru sehingga keuntungan yang diperoleh bisa lebih maksimal. Ilmu pengetahuan tanpa inovasi hanya mengulang-ulang cerita kesuksesan masa lalu tanpa ada penyesuaian terhadap kondisi berbeda yang ada saat ini. Inovasi memberi nilai tambah kepada produk sehingga kebermanfaatannya menjadi lebih besar dan memberi akselerasi keuntungan yang maksimal.

c. tekanan pasar bebas yang memaksa Usaha Kecil Menengah (UKM) untuk berinovasi

Perlindungan terhadap industri dalam negeri dalam menghadapi invasi pasar bebas internasional merupakan kewajiban bagi negara yang menganut asas "kebebasan pasar yang terproteksi". Pasar yang ada tidak mengendalikan kegiatan ekonomi secara mutlak, namun cukup bertaji memaksa UKM untuk melakukan inovasi terhadap produknya, dengan harapan menjaga sustainabilitas keuntungan yang selama ini diperoleh dari pasar.


Sambungnya, terdapat beberapa hal yang menjadi pemicu kemakmuran suatu negara, diantaranya :

a. Tidak lagi mengacu pada kekayaan Sumber Daya Alam (SDA), namun Sumber Daya Manusia (SDM)

Beberapa dekade yang lalu, kemakmuran suatu negara sangat dipengaruhi oleh kekayaan SDA yang tertimbun di dalam permukaan tanah negara tersebut sehingga kita sering mendengar istilah bahwa "kita mesti bangga karena Indonesia memiliki SDA yang sangat besar". Namun, seiring perkembangan zaman, dimana sekarang ini kita telah menginjak zaman informasi yang didominasi oleh ilmu pengetahuan dan teknologi, serta inovasi yang memberi nilai tambah terhadap keduanya, pengembangan SDM harus diprioritaskan dalam membangun kemakmuran suatu negara, entah negara tersebut memiliki SDA yang banyak atau sedikit. Hal ini berhubungan dengan faktor pemanfaatan SDA yang ada. Jika SDM memiliki kapasitas yang mumpuni untuk mengelola SDA yang tersedia, maka negara tersebut tidak perlu memusingkan banyak atau sedikitnya SDA yang ada untuk mencapai kemakmuran negara tersebut.

b. Pengembangan Core Competency

Ditengah arus informasi yang sangat padat, dibutuhkan fokus kerja di bidang-bidang yang spesifik. Suatu lembaga atau perorangan yang fokus dalam pengembangan kompetensi dirinya secara intensif dan spesifik akan mengungguli persaingan yang ada. Begitu pula dalam bidang ekonomi, ketika orang atau lembaga, misal UKM fokus untuk memiliki segmen pasar di bidang-bidang tertentu, lalu mengembangkannya, maka hal itu dapat mendorong akselerasi produksi dan mengingkatkan keuntungan. Dengan itu, jika kita meluaskan cakrawala dan melihatnya sebagai kepentingan negara untuk mensejahterakan rakyatnya, kegiatan pengembangan kompetensi dapat memicu pertumbuhan ekonomi yang berakibat pada kemakmuran suatu negara.


Terkait hal-hal diatas, Dr. Ir. Fadel Muhammad mengatakan bahwa pengembangan ekonomi kelautan dan perikanan, sesuai dengan kapasitas beliau sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, dimulai dari dua hal, yaitu :

a. Pendekatan dan penjajakan kerjasama dengan perguruan tinggi

Hal ini penting mengingat kecenderungan perkembangan ekonomi saat ini berbasis pada ilmu pengetahuan dan inovasi. Dengan asumsi bahwa perguruan tinggi merupakan lembaga pusat ilmu pengetahuan, sesuai dengan salah satu kalimat dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi "Pengabdian Masyarakat", bahwa ilmu pengetahuan yang ada dan berkembang di perguruan tinggi mestinya memberikan manfaat bagi masyarakat, dalam hal ini pemerintah sebagai pemangku jabatan dan representasi masyarakat, sudah selayaknya pemerintah menjadikan perguruan tinggi sebagai mitra kerjasama dalam pengembangan kegiatan perekonomian, khususnya di bidang kelautan dan perikanan.

b. Restrukturisasi Visi & Misi Kementrian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia

Fadel mengatakan bahwa visi kementrian beliau adalah " Indonesia penghasil produk kelautan dan perikanan terbesar 2015" dan misi yang diemban untuk mencapai visi tersebut adalah "Menyejahterakan masyarakat kelautan dan perikanan". Sebuah visi dan misi yang sangat sederhana, namun dibutuhkan perjuangan dan idealisme yang kuat untuk mewujudkannya. Sebelum Fadel memasuki kementriannya sekarang, misi-misi kementrian terkesan mengawang-ngawang dan terbatas pada kata-kata. Hemat beliau,perlu ada restrukturisasi, meski terlebih dahulu dimulai dari kata-kata pada visi dan misinya. Akhirnya muncullah visi dan misi tersebut, yang menurut beliau sangat mungkin terealisasi. Selain itu, beliau selaku menteri memiliki beberapa grand strategy, yaitu :

a. Memperkuat kelembagaan dan SDM

Salah satu hal yang beliau prioritaskan adalah terkait internal kementrian dan sumber daya manusia yang terdapat di dalamnya.

b. Mengelola SDA berkelanjutan

Hal ini terkait dengan budidaya perikanan dan tanaman laut yang mesti dijaga keseimbangannya dengan kepentingan perekonomian nasional terkait sumber daya alam di bidang kelautan dan perikanan. Beliau juga berbicara tentang tantangan yang mungkin akan dihadapi kementriannya dalam rangka mencapai visi dan misi yang diembannya, diantaranya:

a. Meningkatkan produksi perikanan budidaya berbasis sustainability

Saat ini telah banyak produsen ikan yang menggunakan peralatan yang tidak ramah lingkungan. Meski hal ini berujung pada murahnya biaya produksi, namun kegiatan tersebut berdampak buruk pada sesuatu yang terkadang tidak masuk hitungan dalam kegiatan ekonomi kapitalistik, seperti faktor lingkungan dan faktor sosial. Maka dari itu, diperlukan sosialisasi dan realisasi program sustainable development yang memerhitungkan faktor ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam setiap pengambilan keputusan dalam rangka kegiatan perekonomian.

b. Memelihara pasar lama dan membuat pasar baru

Sesuai misi Kementrian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada kelautan dan perikanan mesti diprioritaskan, maka pasar-pasar yang telah ada di Indonesia mesti dilindungi dari akses masuk pasar bebas yang mengintervensi tanpa kontrol. Fadel mengaku beliau bukan penganut ekonomi neolib, namun "kebebasan pasar yang terproteksi". Beberapa kali beliau melarang kegiatan impor ikan mentah dari China, padahal kontainer-kontainer yang mengangkut ikan-ikan tersebut sudah sampai di Indonesia.


Dalam realisasi visi dan misi Kementrian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia di tahun 2011 ini, terdapat beberapa program kerja, yaitu :

a. Minapolitan percontohan

Mina berarti ikan, sedangkan Politan bisa diartikan kota. Maka, Minapolitan percontohan merupakan program kementrian untuk meningkatkan produksi ikan dalam negeri, bahkan menjadikan ikan sebagai komoditas utama di beberapa kota di Indonesia. Hal ini juga akan diterapkan untuk komoditas garam.

b. Pengembangan Usaha Mina Pedesaan dan Pengembangan Usaha Garam Rakyat

c. Kredit Usaha Rakyat

Kedua program diatas terkait usaha pemerintah untuk menggalakkan kegiatan kewirausahaan di bidang kelautan dan perikanan dengan mengikutsertakan masyarakat. Selain sejumlah insentif tunai yang akan didapatkan peserta pembinaan, juga keterampilan untuk memulai usaha baru. Khusus untuk Kredit Usaha Rakyat (KUR), program yang sering kita dengar pula di beberapa kementrian selain Kementrian Kelautan dan Perikanan, pemerintah mengalokasikan dana sebesar 1,3 triliun rupiah dan menggandeng Bank Negara Indonesia (BNI) 46 sebagai mitra kerja.


Beliau juga menekankan bahwa perguruan tinggi memiliki peran yang signifikan terkait hal-hal diatas, yaitu :

a. Transfer Ilmu Pengetahuan

b. Pengembangan Karakter Kewirausahaan


Selain masyarakat umum yang bisa berpartisipasi dalam beberapa program kerja kementrian terkait pengembangan kewirausahaan, mahasiswa sebagai role model atau contoh teladan bagi masyarakat sekitarnya seharusnya bisa menjadi pionir dalam hal ini. Menurut Fadel, sebaiknya mahasiswa memiliki pemikiran bahwa dia tidak ingin bekerja pada orang lain, namun harus bisa menciptakan pekerjaan untuk orang lain.


Beberapa hal diatas yang aku tulis diatas hanya sedikit ilmu yang aku dapatkan dari Dr. Ir. Fadel Muhammad di Studium Generale yang pertama kali aku ikuti. Beliau menginspirasiku untuk terus hidup dalam semangat dan idealisme serta kecintaan terhadap tanah air yang tidak lagi terbatas pada kata-kata, namun telah terejawantahkan dalam karya nyata yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Semoga segala niat baik beliau bisa terealisasi demi kebaikan masyarakat Indonesia.

1 komentar:

  1. Thanks ya sob udah share , blog ini sangat bermanfaat sekali ..............





    agen tiket murah

    BalasHapus

Kamu pengunjung ke