Minggu, 05 Desember 2010

Selayang Pandang Permasalahan Energi Dunia dan Coalbed Methane sebagai Solusinya

Oleh : Fahmi Maulana Kamil*


Pendahuluan
Hari kita melihat ketergantungan yang berlebihan dari masyarakat dunia mengenai kebutuhan energi. Hal ini diperparah dengan kenyataan bahwa mayoritas sumber daya alam yang digunakan untuk memperoleh energi adalah sumber daya alam tak terbarukan seperti minyak bumi, batubara, dan lain-lain. Ketika kebutuhan energi dunia meningkat sebanding dengan peningkatan jumlah populasi warga dunia, justru sumber daya alam yang banyak digunakan, seperti yang disebutkan di atas, persediaannya semakin sedikit dan dalam jangka waktu tertentu akan habis atau tidak terberdayakan. Penggunaan sumber daya alam tak terbarukan juga membawa dampak negatif yang pengaruhnya tidak bersahabat dengan lingkungan, seperti emisi gas karbon dioksida yang "melimpah" di atmosfer sehingga menghasilkan efek rumah kaca. Masyarakat dunia seharusnya sadar mengenai hal ini dan memulai tindakan nyata untuk mengurangi penggunaan sumber daya alam tak terbarukan untuk memenuhi kebutuhan energi dunia.


Menurut penulis, ada dua hal yang bisa dilakukan oleh masyarakat dunia untuk mengurangi dampak negatif penggunaan sumber daya alam tak terbarukan. Kedua hal ini tidak bisa dilakukan hanya salah satunya dengan mengabaikan satu yang lainnya. Pertama, menghemat penggunaan bahan bakar fosil. Hal ini bisa dilakukan secara individual, contohnya dengan cara menghemat penggunaan bahan bakar minyak untuk keperluan transportasi dan menggunakan listrik secara bijaksana. Pemerintah di suatu negara memiliki peran yang signifikan dalam hal ini, misalnya dengan membuat peraturan untuk membatasi konsumsi bahan bakar minyak dengan memperhatikan kepentingan nasional. Kedua, mengembangkan teknologi tepat guna dalam penggunaan sumber daya alam terbarukan dan berwawasan lingkungan sehingga dapat digunakan secara magkus dan sangkil oleh masyarakat. Hal ini ditekankan pada orang-orang yang mendalami disiplin ilmu tertentu dan pemerintah yang berfungsi mendorong pemberdayaan orang-orang tersebut untuk kemudian menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan.




Coalbed Methane, Alternatif Sumberdaya Alam Ramah Lingkungan





Seperti yang penulis ungkap di atas bahwa pengembangan teknologi tepat guna dalam penggunaan sumber daya alam terbarukan dan berwawasan lingkungan harus jadi prioritas utama pemerintah suatu negara dalam mengurangi dampak negatif sumber daya alam tak terbarukan, terdapat suatu inovasi dalam disiplin ilmu dan teknologi pertambangan untuk mencapai hal tersebut, yaitu pemanfaatan Coalbed Methane (CBM), yaitu gas yang sebagian besarnya terdiri atas metana yang teradsopsi (menempel pada permukaan) di pori-pori dalam matriks (lapisan dalam) batubara berskala lebih kecil dari mikrometer. Gas tersebut dihasilkan oleh proses biogenesis, yaitu aktivitas mikroorganisme yang berada di lingkungan anaerob dan termogenesis, yaitu proses perubahan kimia pada batubara akibat pengaruh panas di dalam perut bumi. Tidak seperti gas pada reservoir (tempat tersedianya senyawa hidrokarbon seperti minyak bumi dan gas bumi di dalam perut bumi), CBM mengandung lebih sedikit hidrokarbon jenis butana dan propana sehingga emisi karbon dioksida yang dihasilkannya lebih sedikit dari emis minyak bumi dan gas bumi.


Proses Produksi CBM





Proses pengolahan CBM bermula dari desopsi (terlepas dari permukaan) CBM pada rekahan batubara yang terbentuk pada proses pembatubaraan selama jutaan tahun sebelumnya. Gas keluar dari pori-pori batuan bersama air yang dahulunya masuk lewat rekahan yang dibagi dua macam, rekahan bawah dan rekahan muka. Rekahan muka bentuknya kontinu dan mengarah menuju permeabilitas (kemampuan lapisan untuk dilewati sesuatu) batubara yang lebih tinggi, sedangkan rekahan bawah tidak kontinu dan mengarah pada rekahan muka. Pengeboran dilakukan dari permukaan tanah hingga mencapai kedalaman lapisan batubara, lalu dilakukan penurunan tekanan pada permukaan tanah sehingga air dan CBM dari dalam batubara dapat keluar menuju permukaan tanah akibat perbedaan tekanan diantara pemukaan tanah dengan lapisan batubara. Selanjutnya CBM dipisahkan dari air dan disalurkan ke stasiun kompressor dan pipa gas alam untuk pengolahan lebih lanjut. Air yang didapat dari proses tersebut bisa digunakan untuk irigasi pertanian setelah dilakukan proses penguapan untuk memisahkan air dengan senyawa kimia yang terlarut di dalamnya, seperti natrium bikarbonat dan klorida.


Potensi dan Kontroversi CBM
CBM merupakan temuan mutakhir di bidang ilmu dan teknologi pertambangan. Maka peluang kerja dan usaha di bidang ini cukup potensial, mengingat kebutuhan akan sumber daya alam yang ramah lingkungan semakin meningkat sesuai perkembangan teknologi penggunaannya dan cadangan sumber daya alamnya masih melimpah. Perkiraan cadangan CBM mutlak bervariasi. Namun perkiraan pada 1997 dari US Geological Survey memperkirakan bahwa terdapat lebih dari 700 triliun kaki kubik (20 Tm ³) CBM hanya di Amerika Serikat dengan nilai investasi US $ 4,37 triliun (hampir Rp 40.000 Triliun Rupiah). Setidaknya 100 triliun kubik kaki (2,8 Tm³) itu secara ekonomi layak untuk dikelola. Banyak pihak yang mengatakan bahwa CBM adalah sumber daya alam tak terbarukan. Namun, penemuan terbaru dari Alberta Research Council, Alberta Geological Survey yang menyatakan bahwa CBM adalah sumber daya alam terbarukan mengingat pembentukannya oleh mikroorganisme di dalam lapisan batubara. Hal ini masih menjadi kontroversi dan mengundang perdebatan yang belum terpecahkan hingga saat ini.


Penutup
Setelah mengetahui tentang permasalahan energi dunia dan sumber daya alam yang terkait di dalamnya, penulis berharap pembaca memahami bahwa tindakan yang nyata mutlak diperlukan untuk menyelesaikan masalah di atas, karena ini adalah permasalahan seluruh umat manusia, bukan hanya individu atau pemerintah saja, namun semua segmen masyarakat harus memiliki kesadaran bersama dan tindakan nyata harus dilakukan oleh semua pihak yang terlibat di dalamnya. Sekarang ini sudah banyak inovasi dalam bidang teknologi penggunaan sumber daya alam terbarukan dan berwawasan lingkungan, dan CBM adalah salah satu diantara banyak inovasi yang menawarkan solusi dari permasalahan energi dunia. Harapan penulis juga adalah setelah mengetahui karakteristik, proses produksi, dan potensi CBM, pemerintah Republik Indonesia dan berbagai pihak yang terkait mampu mengambil kebijakan yang menguntungkan rakyat sehingga permasalahan energi dunia, khususnya di Indonesia mampu diatasi dengan baik dan menguntungkan semua pihak.


Referensi :
*Penulis adalah mahasiswa S1 Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, Institut Teknologi Bandung

1 komentar:

  1. silakan kasih kritik yang membangun buat tulisan pertama saya di bidang pertambangan :)

    BalasHapus

Kamu pengunjung ke