Minggu, 03 Januari 2010

Mengkaji Islam Liberal, Sebuah Perspektif Pemikiran Lugu Anak SMA

Wacana Islam Liberal telah menyedot perhatian di kalangan aktivis Muslim; bahwa sesungguhnya paham ini mengajak pada toleransi dalaim bidang aqidah, syariat, dan akhlaq di kalangan Umat Islam. Aqidah adalah suatu pemahaman tentang ketuhanan, interaksinya dengan manusia, serta interaksi manusia dengan alam. Berbicara mengenai sifat-sifat Allah, hal ini sudah jelas tertulis di berbagai kitab Hadist, bahkan Al Quran sebagai referensi utama, sehingga bagi sebagian kalangan yang suka mendebat, hal ini tidak menjadi penting untuk diperdebatkan (telah nyata antara haq dan bathil).


Interaksi manusia dengan Alam juga sudah sangat jelas, bahwa manusia diciptakan untuk menjadi Khalifah Allah di muka bumi, untuk kemudian dimintai pertanggungjawabannya pada hari dimana Hakim Yang Maha Adil dan Anti Suap akan memberikan keputusan pada Makhluk-Nya. Tentu saya ga perlu lagi menjabarkan definisi Khalifah. Bagi sebagian kalangan yang lebih suka mengambil referensi diluar Al Quran dan Hadits, saya pikir mereka akan bingung mencari-cari alasan manusia hidup di dunia. Sesungguhnya manusia tidak diberi ilmu melainkan sedikit.


Kaum Islam Liberal memiliki keyakinan bahwa Agama bersifat kepentingan pribadi sehingga tidak bisa digunakan dalam ruang lingkup kepentingan umum. Jadilah mereka berpendapat segala hal yang tidak ada kaitannya dengan Ibadah Ghaib seperti Shalat, Puasa, Dzikir memerlukan sebuah pedoman baru yang mereka namakan "Kebenaran Relatif" yang sifatnya berbeda-beda dalam berbagai tempat dan waktu. Dalam Politik, mereka menganggap Demokrasi dengan prinsip "Fox Populi Fox Dei : Suara Rakyat adalah Suara Tuhan" adalah sistem politik yang mutlak dibutuhkan bagi negara yang ingin maju, meniru negara Adidaya. Dalam Ekonomi, sistem Kapitalisme dengan bunga ribanya yang semakin memperlebar jurang pemisah antara si kaya dan si miskin, menjadi kebutuhan pokok.


Jangan jauh-jauh, mereka juga bicara tentang toleransi beragama. Bagaimana agama itu hanyalah simbol dan satu-satunya jalan untuk memersatukan umat manusia yang beragam suku budaya, bahasa, dan agamanya adalah dengan melepaskan simbol-simbol yang membedakan satu dengan yang lainnya, yang mereka anggap, telah menjadi jurang pemisah dan penyebab konflik antar umat manusia. Masya Allah! Semoga kita semua dilindung oleh-Nya dari fitnah yang sengaja disusupkan di tengah-tengah kaum Muslimin oleh sekelompok manusia yang ingin memadamkan cahaya Allah ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kamu pengunjung ke