Kamis, 31 Desember 2009

Jika Saat Ini Rasulullah SAW Duduk di Samping Anda

Mari kita sedikit berimajinasi, membayangkan seandainya Rasulullah kini berada di samping kita dan bertanya mengenai beberapa hal,

"Assalamu'alaykum wa Rahmatullahi wa Barakatuh," sapanya lembut.

"Wahai Saudaraku, betulkah engkau beriman kepadaku di samping kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, Hari Akhir, dan Qadha dan Qadar-Nya? Sudahkan keimananmu menjadikanmu tentram dan tidak mencari keimanan lainnya?"


"Wahai Saudaraku, benarkah cintamu kepadaku lebih dalam dan lebih besar dari cintamu kepada harta, jabatan, dan keluargamu? Siapkah engkau mengorbankan kedudukanmu yang begitu engkau banggakan ketika sunnahku mengharuskan engkau berkata benar dan jabatanmu sebagai taruhannya? Bukankah engkau telah melihat bagaimana nasib umatku yang kelaparan, telanjang kedinginan tidur di bantalan rel kereta api? SUdahkah engkau berbuat sesuatu dengan hartamu?"

"Wahai Saudaraku, sesekali aku mendengarmu memuji Allah dan membacakan Shalawat padaku. Namun, sudahkan engkau menghayati dan merenungi maknanya? Masihkah engkau ingat Shalawatmu ketika engkau berada di proyek, saat transaksi keuangan, saat memilih bank, saat membahas Perda di DPRD, saat meminta pengusaha membayar sejumlah dana untuk meloloskan RUU?"

"Wahai Saudaraku, jangan tersinggung kalau aku bertanya demikian, itulah yang aku amati dari kebanyakan umatku di Indonesia. KTP-nya Muslim dan Muslimah, tetapi kelakuannya, Masya Allah... Sungguhpun demikian, aku akan tetap berdoa untuk keselamatan umatku semua."

"Wahai Saudaraku, aku bahagia jika engkau sempat membaca perjalanan dakwah dan riwayat hidupku. Aku memahami hidup semakin sulit apalagi di kota-kota besar. Harga kebutuhan pokok semakin mahal, pendidikan semakin elitis, kesehatan semakin tidak terjangkau. Jangan sedih, saudaraku! Aku juga dulu mengalami masa-masa sulit di usia kecilku. Aku terlahir sebagai yatim dan menjadi piatu saat berusia enam tahun. Saat itu aku diasuh oleh kakek tercinta Abdul Muthalib. Selang dua tahun, beliau dipanggil Allah SWT. Aku harus berterima kasih aku diasuh kemudian di rumah pamanku Abu Thalib. Untuk meringankan beban ekonomi keluarga aku bekerja, dari menggembala kambing, mencari kayu bakar, sampai memikul batu. Semua itu aku lakukan sebagai bagian dari Self Development dan Personal Leadership."

"Wahai Saudaraku, aku gusar mendengar banyak umatku yang tidak mau berusaha dan memulai bisnis karena alasan klasik; tidak punya modal. Sesungguhnya untuk menjadi Enterpreneur tidak melulu diawali dengan modal besar. Modal utama dalam bisnis adalah kepercayaan dan kompetisi. Bukankah engkau mengetahui, aku bisa menjalankan bisnis tanpa modal dengan menerima amanah dagangan dari investor Makkah dan berbagi hasil dengan sistem Mudharabah. Memang benar, untuk mendapatkan kepercayaan tidaklah mudah; kita harus jujur, melaksanakan apa yang kita katakan, dan teguh memegang kepercayaan orang. Meskipun demikian, jujur tidaklah cukup. Engkau harus kompeten di bidangmu. Engkau harus memiliki keterampilan menjual yang baik, sabar meladeni nasabah, serta memberikan pelayanan yang terbaik. Engkau juga harus banyak bergaul dan memperluas jaringan. Ketika aku muda, aku jajakan barang dagangan Makkah di Madinah, Hadramaut, Yaman, Oman, Yordania, dan Bahrain. Pada saat itu belum ada pesawat terbang, fax, email, sms, ATM, dan lainnya yang dapat memudahkan engkau saat ini."

"Wahai Saudaraku, terkadang aku perih mendengar sebagian umatku terpengaruh oleh provokasi orientalis yang menuduhku sebagai seorang hypersex dan pedofil. Engkau mengetahui bahwa aku menikah selama 25 tahun dengan Khadijah binti Khuwailid sebagai cintaku satu-satunya. Pada usia 51 tahun aku diamanahi Allah SWT mencari pengganti Khadijah, guna menemani perjuangan dakwah. Lebih penting lagi engkau perhatikan, hampir semua istriku adalah janda-janda yang kebanyakan lebih tua dariku. Ada Saudah binti Zam'ah (65 tahun), Maimunah binti Al-HArits(63), Juwairiyyah binti Harits Al-Khuzaiyyah (65). Gadis yang kunikahi adalah 'Aisyah binti Abu Bakar dan Maria Al-Qibtiyyah."

"Wahai Saudaraku, aku bersyukur melihatmu dan saudara-saudaramu yang giat mendakwahkan Islam. Sudah selayaknya setelah menikmati manisnya Iman kita harus mengajak saudara-saudara yang lain untuk ikut merasakannya. Dakwah yang paling utama adalah dengan suri teladan. Sungguh aku pedih melihat buruknya citra Islam karena buruknya perilaku sebagian umatku. Mereka bernama Ahmad, Muhammad, Abdullah tetapi kelakuannya bejat! Perangai buruk mereka akan berdampak negatif terhadap dakwah Islam yang sedang bangkit menemukan jati dirinya sebagai rahmat bagi seluruh alam, karena orang akan menilai Islam dari pribadi pemeluknya."

"Wahai Saudaraku, bergaulah dan bina hubungan harmonis dengan masyarakat. Bersabarlah menghadapi orang-orang yang menentangmu karena agamamu. Memang tidak mudah mengatur orang banyak yang datang dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda. Engkau bayangkan bagaimana sulitnya menyatukan ribuan kaum Muhajirin dan Anshar di Madinah. Belum lagi kaum Kristiani dan belasan suku Yahudi yang kuat mencengkram perekonomian Madinah. SYukurlah aku dapat menyatukan mereka melalui Piagam Madinah, yang dengannya mereka bahu membahu membangun peradaban baru yang menyinari dunia."

"Wahai Saudaraku, tegakkanlah hukum seadil-adilnya! Dengarkan argumentasi kedua belah pihak. Jangan engkau bersikap keras kepada yang lemah dan lunak kepada yang kuat. Ingatlah, berapa pun uang sogokan yang engkau terima tidak akan cukup untuk menebusmu dari siksa Neraka Jahannam!"

"wahai Saudaraku, jagalah Islam baik-baik! Aku dan para sahabatku dahulu memerjuangkannya dengan darar, keringat, dan air mata. Selama sepuluh tahun tidak kurang sembilai peperangan besar dan lima puluh tiga ekspedisi militer kami jalani. Dengan segala kekurangan bekal dan senjata, sedikit demi sedikit bumi Allah dibebaskan dari belenggu kejahiliahan. Janganlah egois karena keterbatasan waktu bisnis dan mengurusi proyek. Jika Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Hamzah, Sa'ad, dan Abdurrahman bin 'Auf berkata ," Maaf, aku terlalu sibuk mengurus bisnis. Aku tidak punya waktu untuk mendakwahkan Islam!.", aku yakin Islam tidak akan sampai ke tanah Indonesia!

"Wahai Saudaraku, aku tinggalkan dua perkara sebagai oleh-oleh perjumpaanku padamu. Berpeganglah erat-erat pada keduanya. Aku menjamin, selama engkau konsisten berpedoman pada keduanya, engkau akan sukses di dunia dan di akhirat. Islam pun akan jaya untuk selamanya. Itulah Al-Quran dan Sunnahku yang sudah lama berdebu di lemari bukumu!"

Tidak lama, anda berpisah dengan menyalami dan memeluk Rasul yang mulia itu..

(Terinspirasi dari : "Muhammad SAW The Super Leader Super Manager" karya Dr. Muhammad Syafii Antonio M.Ec.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kamu pengunjung ke