Sabtu, 03 Oktober 2009

Efektivitas dan Efisiensi Belajar di SMAN 5 Bandung

Hari itu Bu Henny (BK) berbicara di depan kelas XII-G SMAN 5 Bandung bahwa lisensi ISO 9001:2008 yang menjadi kebanggaan sekaligus beban bagi warga sekolah itu bakal ditinjau ulang. Bu Henny menawarkan pada siswa-siswi kelas saya untuk menulis sesuatu mengenai hal ini, untuk dijadikan bahan pertimbangan, perihal 'pelayanan' sekolah di mata 'stakeholders', karena memang predikat ISO menjadikan sekolah seolah "melayani warga sekolah". Namun saya terlambat. Yahh, daripada tidak saya buat sama sekali, lebih baik saya tumpahkan ide-ide saya di sini, karena memang untuk tujuan semacam itulah blog ini disusun. Silahkan membaca dan menyampaikan tanggapanmu!



Bagi saya, sekolah adalah tempat yang ideal bagi pertumbuhan dan perkembangan remaja bangsa Indonesia, khususnya remaja di Bandung. Mengingat pergaulan di masa remaja penuh dengan hal-hal yang tidak selalu positif, kehadiran sekolah diharapkan mampu membendung hal-hal yang mengarah pada keburukan dan mengarahkan kepada hal-hal yang 'bertemakan' kebaikan. Tidak hanya di bidang pendidikan formal, sekolah adalah sarana pendewasaan bagi pribadi remaja yang sedang dalam proses mencari jati diri dan makna kehidupan.

Saatnya bicara dalam konteks SMAN 5 Bandung tercinta! Saat ini khususnya SMAN 5 Bandung, umumnya SMA Negeri dan Swasta di seluruh nusantara sedang mempersiapkan siswa-siswi kader terbaiknya dalam kurun waktu tiga tahun untuk menembus Ujian Nasional hingga Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri, dan mendapat jatah kursi di PTN Favorit. Tentu hal ini tidak sesederhana yang dibayangkan! SMAN 5 Bandung harus mampu memotivasi siswa siswi nya untuk belajar lebih giat agar berhasil mencapai cita-cita yang diidam-idamkan, seminimal-minimalnya masuk PTN favorit.

Untuk menyukseskan hal tersebut, menurut hemat saya, dibutuhkan sarana prasarana yang memadai, untuk menunjang kerja keras yang selama ini dikobarkan oleh seluruh elemen sekolah (saya tidak mengada-ngada bung, kita merasakan sendiri hasilnya). Diantaranya, kebutuhan akan perangkat yang bersifat materi dan imateri. Saya cenderung untuk menghindari membahas mengenai sarana yang bersifat materiil, karena fasilitas di SMAN 5 Bandung sudah sangat mencukupi kalau kita tidak selalu mencari-cari kekurangan SMAN 5 Bandung, kemudian mengeluh dan membandingkan dengan kelebihan fasilitas sekolah lain, apalagi sekolah sebelah SMAN 5 Bandung!

Saya tergelitik untuk membahas perangkat pembelajaran yang bersifat imateri. Saya mulai dari Mata Pelajaran dan durasinya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa mata pelajaran yang akan diujikan di UN dan SNMPTN adalah Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Dan harus diakui meski terasa pahit, pelajaran selain MaFiKiBiBaBi (maksa bgt sieh!) tidak perlu lagi dipelajari di kelas XII SMA karena tidak lagi diujikan pada ujian-ujian yang akan dilakoni oleh siswa kelas XII. Belum lagi soal durasi belajar. Perlu diingat, semakin pintar seseorang maka otaknya semakin mudah jenuh. Saya kira perlu ada perumusan ulang materi pembelarajan untuk siswa siswi kelas XII. Bukannya saya tidak menghormati guru bersangkutan, justru dengan menulis tentang hal ini, saya mencoba memberikan saran mengenai efektifitas dan efisiensi pembelajaran sekolah, demi tercapainya tujuan pembelajaran yang lebih dari sekadar formalitas belajar. Kegiatan Belajar Mengajar ada bukan untuk memenuhi tuntutan jadwal pelajaran yang begitu padat dan menguras tenaga, harta, waktu, namun untuk memberikan pelajaran yang bermanfaat bagi siswa siswi nya demi mencetak kader-kader terbaik yang mampu meneruskan pendidikanya di PTN yang sesuai dengan minat dan bakat nya.

Akhir kata, saya ucapkan maaf bagi yang merasa tidak senang dengan tulisan saya ini..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kamu pengunjung ke